LMK Pelari Nusantara Bagi Royalti Digital, Tiga Musisi Ini Jadi Yang Teratas
INVENTIF – Sebuah gebrakan kembali dilakukan LMK Pelari Nusantara lewat pendistribusian royalti digital bagi musisi anggotanya yang terbaca meta datanya selama November hingga Desember 2022. Acara ini digelar sekaligus buka puasa bersama dengan anggota.
Tercatat 16 musisi anggota Pelari Nusantara yang mendapatkan royalti digital dengan jumlah nominal berbeda-beda. Mereka adalah, Tito Soemarsono, H. Ukat S, Timur Priyono, Sandy Sulung, pencipta lagu Bang Toyib, Maxi Mamiri, Rudy Rampengan, John Dayat, Rudy Loho, Keenan Nasution dan sejumlah musisi lainnya.
Untuk tiga besar peraih royalti kali ini adalah Tito Soemarsono dengan nilai Rp11 juta. Lalu H. Ukat sebesar Rp7 juta dan Ryan Kyoto Rp6,2 juta.
“Anggota lain kalau ada lagu baru yang belum didaftarkan, segera didaftarkan agar terbaca di meta data. Saya ingin di distribusi royalti digital selanjutnya tidak hanya 16 orang saja, tetapi lebih banyak lagi,” kata Ketua LMK Pelari Nusantara, Sandec Sahetapy saat membagikan royalti di Jakarta, Minggu (26/3).
Lanjut Sandec, jumlah royalti digital yang dibagikan LMK Pelari Nusantara ini riil tanpa diutak atik.
“Semua terbuka dan transparan. Dan khusus kali ini, Pelari tidak mengambil potongan 10 persen karena kita tahu di bulan puasa ini banyak kebutuhan,” tambah Sandec.
Sekretaris Umum (Sekum) Pelari, Rudy Loho menambhakan, anggota Pelari harus terus berkarya dan jangan terlena dengan karya lama mereka.
“Saya minta anggota Pelari terus berkarya agar bisa punya royalti digital lebih banyak lagi. Kami fasilitasi di tiga tempat ya, nanti bisa koordinasi dengan Timur Priyono. Bisa bikin rekaman dan syuting konten YouTube. Nggak usah bayar, nanti Pelari yang tanggung,” ujar Rudy.
Salah satu penerima royalti, H Ukat S yang kerap disebut ‘Panglima Dangdut’ mengakui, sebelum bergabung dengan LMK Pelari Nusantara, ia merasa tak maksimal menerima royalti ratusan lagu-lagu yang diciptakannya.
“Saya merasa tidak maksimal, sehingga pindah ke LMK Pelari Nusantara, dan Alhamdulilah apresiasinya luar biasa sekali. Meski diminta kembali ke sana, saya terlanjur bahagia di sini,” kata H Ukat..
Sedangkan Tito Sumarsono yang dipercayakan LMK Pelari duduk sebagai anggota Komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dari LMK Pelari Nusantara menyebut, dirinya pun tak lelah mengingatkan anggota Pelari tak terlena dengan karya lama.
“Paling tidak, lagu lama di-recycle. Dan sebisa mungkin terus membuat lagu baru. Saya juga ucapkan terima kasih kepada Pelari, saya duduk di LMKN mewakili komposer, jadi saya akan bicara dan bersuara jika menyangkut urusan memperjuangkan komposer,” kata Tito. (RNZ)