Arzetti Bilbina: BPJS Ketenagakerjaan, Pegangan Hidup bagi Pekerja

0

 

INVENTIF — Di antara hiruk pikuk kehidupan kerja yang tak mengenal batas waktu, Anggota DPR RI, Dr. Hj. Arzetti Bilbina, S.E., M.A.P., menyalakan kembali kesadaran tentang arti perlindungan diri. Ia menegaskan, BPJS Ketenagakerjaan bukanlah sekadar pilihan yang bisa ditunda, melainkan kebutuhan yang melekat pada setiap pekerja, terutama mereka yang berjalan tanpa kepastian slip gaji atau upah tetap.

“Setiap orang yang bekerja sesungguhnya sedang memikul tanggung jawab, bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi keluarganya,” ucap Arzetti dengan suara yang menggema, seakan meneguhkan hati para pendengarnya. Ia mengingatkan, dalam dunia kerja yang kadang menelan waktu hingga 24 jam sehari, risiko selalu mengintai—kesehatan yang rapuh, kecelakaan yang datang tiba-tiba, hingga maut yang tak bisa ditebak.

Karena itu, BPJS Ketenagakerjaan ia sebut sebagai pegangan hidup, sebuah bentuk penghargaan diri atas keringat dan kerja keras yang sering kali tak terlihat. “Ini bukan soal untung atau rugi. Ini tentang kebutuhan. Saat sesuatu terjadi, dari sakit hingga meninggal dunia, ada perlindungan, ada warisan yang bisa kita titipkan kepada keluarga,” tuturnya, lirih namun penuh makna.

Arzetti juga mengungkap bahwa masih banyak masyarakat yang salah kaprah, mengira program ini hanya bermanfaat bila sakit. Padahal, ketika badai kesehatan menerpa, biaya pengobatan bisa menguras segalanya. Dengan jaminan sosial, beban itu bisa terangkat, memberi rasa tenang, aman, dan terlindungi.

Ia menegaskan, BPJS Ketenagakerjaan bukanlah asuransi komersial yang mengejar laba, melainkan hadiah negara—sebuah penghargaan yang dirancang untuk memerdekakan rakyat pekerja. Manfaatnya luas: dari biaya pengobatan tanpa batas, santunan kecelakaan kerja, hingga jaminan kematian yang menjaga keluarga yang ditinggalkan.

“BPJS Ketenagakerjaan adalah bentuk apresiasi pemerintah untuk memerdekakan rakyat, bukan hanya dalam euforia peringatan, tetapi juga dalam kebutuhan paling hakiki: kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan,” tegasnya.

Lewat sosialisasi ini, Arzetti berharap kesadaran itu menembus ruang-ruang pekerja informal, hingga wartawan yang kerap bekerja dalam bayangan risiko. Dengan perlindungan jaminan sosial, kesejahteraan keluarga pekerja akan lebih terjamin, dan masa depan terasa lebih pasti. (ISS)

Leave A Reply

Your email address will not be published.