Deru Banjir, Hembus Angin, dan Api di Hutan, Potret Bencana Nusantara

0

 

INVENTIF — Tanah air kembali bergetar oleh kabar bencana. Hujan deras, angin kencang, hingga bara api di hutan, berpadu menjadi kisah getir yang menyebar dari Jawa hingga Sulawesi, dari Sumatera hingga ujung Lampung.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, dalam rentang Selasa hingga Rabu pagi (19–20/8), bumi pertiwi diguyur prahara alam yang tak kunjung usai.

Di Cilacap, Jawa Tengah, Kali Gombong kehilangan kendali. Tanggul yang selama ini menjadi benteng, jebol diterjang derasnya arus. Air meluap, menelan 122 rumah, puluhan hektar lahan, sekolah, fasilitas ibadah, hingga jalan yang biasa dilalui anak-anak berangkat sekolah. Warga berlarian, sebagian hanya sempat menyelamatkan diri dengan pakaian di badan. Posko darurat berdiri di Balai Desa Kalijeruk, menjadi saksi bagaimana logistik dan doa mengalir bersama air mata.

Tak jauh dari sana, Kota Yogyakarta ikut dirundung duka. Sungai Gajah Wong meluap, mengurung 90 rumah di Kecamatan Kota Gede. Namun, sebagaimana watak Yogya yang tak pernah menyerah pada waktu, warga dan petugas BPBD berbaur dalam kerja bakti. Dengan tangan berlumur lumpur, mereka mengangkat harapan, satu demi satu, dari rumah-rumah yang terendam.

Sementara itu di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, banjir di Desa Balinggi membuat seratus jiwa memilih menyingkir ke rumah kerabat. Mereka mengungsi bukan sekadar dari derasnya air, melainkan juga dari ketidakpastian yang kerap datang bersama bencana.

Langit lain menghadirkan wajah yang berbeda. Di Serang, Banten, hujan deras bersekutu dengan angin kencang. Pohon tumbang, rumah-rumah retak, sebagian roboh. Sembilan rumah rusak ringan, tiga rusak sedang, satu hancur parah. Desa Padasuka dan Panyirapan berbenah dengan napas panjang, menyingkirkan puing-puing sambil berharap langit segera teduh.

Lampung Timur pun tak luput dari murka alam. Angin puting beliung memporak-porandakan tujuh rumah hingga tak lagi berdiri, disusul belasan rumah lain yang retak dan goyah. Logistik tiba, tapi luka batin warga masih menunggu waktu untuk sembuh.

Di Cirebon, Jawa Barat, 15 rumah diterpa angin. Dinding dan atap berserakan, namun semangat gotong royong tumbuh lebih kuat dari angin itu sendiri.

Tak hanya air dan angin, api pun menyulut kecemasan. Di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dedaunan kering tersulut panas, menjalar cepat di Kecamatan Pagaran. Lahan seluas 1,5 hektar dilahap api sebelum akhirnya petugas berhasil menjinakkannya. Bara padam, namun peringatan tersisa: hutan adalah rumah yang rapuh bila ditinggalkan tanpa penjaga.

BNPB menutup laporannya dengan sebuah imbauan yang sederhana namun dalam: waspada dan siaga. Dari merawat saluran air, memangkas dahan rapuh, hingga memastikan rumah kokoh berdiri. Karena bencana datang tak pernah mengetuk pintu, ia hadir tiba-tiba, menuntut kita lebih peduli pada bumi, pada sesama, pada hidup itu sendiri. (ISS)

Leave A Reply

Your email address will not be published.