Negeri Sudah Punya Sekolah Tinggi Agama Khonghucu, Tinggal Kohesi Sosial yang Belum Lulus Ujian
INVENTIF – Indonesia kembali mencatat sejarah: sebuah sekolah tinggi agama negeri resmi berdiri, kali ini untuk agama Khonghucu. Namanya SETIAKIN (Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Indonesia).
Dan seperti biasa, sejarah tidak pernah hadir sendirian—ia selalu ditemani sambutan panjang, pesan moral, dan harapan yang tinggi, yang kadang-kadang justru lebih tinggi dari gedung kampusnya.
Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang memulai sambutannya dengan mengutip pepatah klasik, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”—suatu ungkapan yang terdengar semakin relevan ketika sekolah tinggi yang dimaksud memang sedang menyiapkan program studi berbasis ajaran Konfusius.
Menag menyebut SETIAKIN sebagai “jembatan penyeberangan ilmu”, istilah yang membuat hadirin seolah sedang menyeberangi jalan nasional, bukan memasuki kampus baru.
Tantangan Bangsa: Kohesi Sosial yang Kadang Lebih Licin dari Lantai Balai Pertemuan
Menag menyinggung “tantangan utama bangsa” yaitu kohesi sosial antarpemeluk agama. Pernyataan yang sudah begitu sering muncul di pidato-pidato nasional, hingga banyak orang menduga kohesi sosial ini sebenarnya makhluk halus: semua orang bicara, tapi tidak ada yang benar-benar melihat bentuknya.
Beliau kemudian menjelaskan tiga ajaran pokok Khonghucu—Ren, Li, dan Ba De—yang diharapkan dapat diinternalisasi oleh civitas akademika SETIAKIN.
• Ren, tentang kasih sayang sesama manusia—nilai yang sangat penting, apalagi di tengah era komentar pedas di media sosial.
• Li, tentang susila dan ritual—yang mudah-mudahan tidak berhenti pada upacara pembukaan.
• Ba De, delapan kebajikan—yang jumlahnya delapan tetapi seringnya dipraktikkan hanya dua atau tiga.
Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu, Nurudin, menegaskan bahwa pendirian SETIAKIN adalah bukti kehadiran negara. Ini menarik, karena negara memang sangat rajin “hadir” saat peresmian, konferensi, dan pemotongan pita, namun masyarakat tentu berharap kehadiran itu juga terus ada setelah lampu acara dimatikan.
Nurudin memaparkan bahwa mahasiswa angkatan pertama sudah direkrut secara nasional, dengan dua program studi unggulan:
– Komunikasi dan Penyiaran Khonghucu
– Pendidikan Agama Khonghucu
Keduanya menjadi bukti bahwa setelah ratusan tahun ajaran Konfusius hidup di Nusantara, akhirnya ada tempat resmi untuk mempelajarinya tanpa perlu mencari guru privat.
Kampus Percontohan Nasional
Gubernur Bangka Belitung, Hidayat Arsani, menyambut positif pendirian kampus ini. Ia menyebut SETIAKIN sebagai sekolah percontohan umat Khonghucu di Indonesia. Sebuah predikat yang biasanya membuat sebuah institusi disibukkan oleh kunjungan kerja, foto bersama, dan agenda “sharing best practices” yang tidak jarang lebih panjang dari semester akademik.
Ia menegaskan bahwa Provinsi Bangka Belitung mendukung penuh pembangunan sekolah ini, karena pendidikan adalah jalan menuju masa depan. Pernyataan yang tentu disetujui semua orang—meski masa depan itu terkadang membutuhkan lebih dari sekadar dukungan saat acara peresmian.
Satu Kampus Lagi untuk Negeri, Satu PR Lagi untuk Kohesi Sosial
Dengan berdirinya SETIAKIN, Indonesia resmi menambah daftar sekolah tinggi agama negeri—dan sekaligus menambah optimisme bahwa keragaman agama di Tanah Air punya wadah pendidikan yang setara.
Tinggal sekarang, pekerjaan rumahnya: memastikan nilai Ren, Li, dan Ba De tidak hanya menjadi bahan ujian mahasiswa, tetapi juga menjadi etika publik yang benar-benar hidup—walau kita tahu, dalam banyak kasus, nilai moral jauh lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan(( NMC)