“Raja Wafat, Diplomasi Bangkit, Saat Bela Sungkawa Jadi Bahasa Lintas Bangsa”
INVENTIF — Angin duka berhembus dari Surakarta hingga ke Dili. Tapi jangan salah sangka, bukan hanya rakyat yang menunduk haru — para diplomat pun ikut berlomba mengatur diksi belasungkawa paling puitis.
Di antara deretan ucapan duka yang penuh bunga kata, muncul nama Duta Besar Republik Demokratik Timor-Leste untuk Indonesia, Roberto Soares, yang dengan penuh kelembutan diplomatik mengirim pesan berisi duka, doa, dan sedikit aroma protokol.
“Atas nama pribadi, keluarga, dan Kedutaan Besar Republik Demokratik Timor-Leste, kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam,” tulis Dubes Roberto, seolah duka pun kini wajib lewat nota diplomatik bersampul resmi.
Kepergian SISKS Pakoe Boewono XIII disebutnya sebagai kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Dan memang, siapa yang bisa menyangkal? Di zaman ketika raja-raja lain hanya hidup dalam buku pelajaran, Surakarta masih punya satu yang nyata — meski kekuasaan lebih banyak diserahkan pada simbol dan seremoni. Tapi justru di situlah letak keagungannya: menjadi raja yang tak memerintah, namun tetap dihormati.
Dubes Roberto menyebut almarhum sebagai “simbol kearifan dan peradaban Nusantara.” Kata-kata yang indah, walau agak sulit diukur: apakah “peradaban Nusantara” itu masih termasuk ketika masyarakat sibuk mengantre BLT dan konten gosip kerajaan viral di TikTok?
Namun siapa kita untuk menginterupsi? Diplomasi, sebagaimana adat Jawa, punya tata krama tersendiri — yang penting tutur halus, walau maknanya bisa multitafsir. Maka, seperti biasa, doa mengalir: semoga Sang Raja beristirahat dalam damai, dan semoga rakyat juga diberi ketenangan menghadapi kenyataan bahwa di republik demokratis ini, berita kematian seorang raja justru terasa lebih menenteramkan daripada berita para pejabat yang masih hidup.
Upacara adat pemakaman akan dilaksanakan dengan tata cara penuh kebesaran Mataram. Di sana, mungkin sekali para pejabat akan berbaris dengan rapi, menunduk dalam, lalu kembali ke mobil dinas masing-masing. Mungkin sambil mengetik pesan: “Terima kasih atas liputannya.”
Dan di tengah segala simbol, karangan bunga, serta doa lintas bangsa, satu hal tampak jelas: meski raja telah wafat, budaya basa-basi tetap hidup dan sejahtera. Bahkan semakin makmur, karena kini ia punya duta besar sendiri. (NMC)