“Empat UIN Rumuskan Perdamaian Dunia, Kampus Mendadak Jadi Markas Diplomasi Global”

0

 

INVENTIF –  Laiknya roadshow, Jakarta – Medan – Makassar – Surabaya – lalu Jakarta lagi, karena puncaknya harus di ibu kota, pada 24 November 2025.

Dalam sebuah langkah yang secara resmi disebut “kontribusi akademik” namun secara tidak resmi terasa seperti “PR raksasa yang tiba-tiba diberikan negara”, empat Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia kini memikul beban mulia: merumuskan policy brief untuk diplomasi perdamaian Presiden Prabowo Subianto—mulai dari Gaza, dunia Melayu-Islam, hingga “New Global Order” yang bahkan Google pun masih bertanya-tanya apa maksudnya.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengumumkan hal ini dalam konferensi pers di UIN Sumatera Utara. Sebagai pembuka acara, gendang ditabuh, menandai awal rangkaian seminar yang tampaknya diarahkan untuk menyelesaikan konflik global, sekaligus membuktikan bahwa diplomasi soft power bisa dimulai dari kampus—asal WiFi stabil.

Empat UIN, Empat Tugas, Satu Harapan: Dunia Tenang

1. UIN Alauddin Makassar — Membedah Gaza dari Auditorium Ber-AC

Mengangkat tema “Towards a Two-State Solution”, para narasumber internasional hadir, termasuk Prof. Robert W. Hefner dan jurnalis Palestina Revda Selver Iseric. Keduanya membahas peran Indonesia dalam solusi dua negara, sementara mahasiswa membahas hal lain: apakah seminar ini masuk poin SKKM?

Ustadz Das’ad Latif turut hadir, menambahkan perspektif kemanusiaan—dan sedikit komedi, agar konflik panjang Gaza tampak lebih mudah dicerna dibandingkan skripsi bab 3.

Menag mengatakan forum ini “membedah arah kebijakan Indonesia”, walau sebagian peserta diam-diam masih membedah apakah coffee break sesi pertama layak disebut coffee break.

2. UIN Sumatera Utara — Membaca Geopolitik Prabowo, Tapi Tetap Menunggu Konsumsi

Seminar bertema “Reading The Geopolitical Direction of President Prabowo” menjadi ajang merenungi posisi dunia Melayu-Islam dalam geopolitik global.

Di sini, peserta diajak memahami bagaimana nilai-nilai agama bisa memperkuat diplomasi. Namun sebagian peserta rupanya memahami nilai-nilai agama lewat kesabaran menghadapi jadwal acara yang molor—suatu bentuk pengendalian diri yang patut dicatat dalam policy brief.

3. UIN Sunan Ampel Surabaya — Mengupas Moderasi Beragama Secara Moderat

Di Surabaya, fokusnya adalah: “Mengapa Islam di Indonesia moderat?”

Jawaban singkatnya: karena kalau tidak moderat, seminar ini tidak akan berlangsung damai. Jawaban panjangnya: itulah yang dicari dalam forum akademik ini.

Menag menyebut karakter moderasi Indonesia sebagai “konten emosional dan fondasi intelektual”—pendekatan yang juga cukup mirip dengan cara mahasiswa mengerjakan tugas semalam sebelum deadline.

4. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta — Tempat Semua Ide Dikumpulkan Layaknya Tugas Kelompok

Sebagai puncak kegiatan, UIN Jakarta menjadi lokasi penggabungan semua hasil seminar. Di sinilah policy brief dirumuskan, difinalkan, dan mungkin direvisi 12 kali karena “Pak Menteri minta poinnya lebih tajam”.

Konon, policy brief ini akan diserahkan ke Kementerian Luar Negeri, yang akan membacanya sambil bertanya:
“Ini sudah final, atau nanti ada versi revisi revisi final final fix?”

Indonesia Menuju Pusat Peradaban Islam Modern (Versi Draft)

Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Indonesia kini diproyeksikan menjadi pusat peradaban Islam modern. Proyeksi siapa? Tidak dijelaskan. Mungkin Google Maps geopolitik.

Yang jelas, Indonesia ingin mempromosikan diplomasi soft power—sebuah strategi yang mengandalkan persuasi, budaya, dan seminar, bukan tank.

Presiden Prabowo, kata Menag, menjadi sorotan global karena mendorong two-state solution. Bahkan disebut masih jadi trending topic media. Belum diklarifikasi apakah trending di dunia, atau hanya di grup WhatsApp tertentu.

Dunia Melayu-Islam: Dari Gendang Pembukaan Hingga Geopolitik

Acara dibuka dengan penabuhan gendang—sebuah tradisi yang membuktikan bahwa sebelum membahas konflik global, ritme harus disetel dulu.

Menteri Agama mendorong peran dunia Melayu-Islam dalam geopolitik global. Meski begitu, belum ada kejelasan apakah “peran lebih besar” ini meliputi solusi konflik Timur Tengah atau sekadar memperbanyak kerja sama seminar internasional.

Dukungan Pemprov Sumut: Akademik untuk Geopolitik

Asisten Pemerintahan Sumut, Basarin Yunus Tanjung, menyampaikan dukungan daerah. Sumut, katanya, mendukung pendidikan yang berkontribusi untuk geopolitik Indonesia.

Pernyataan itu membuat beberapa peserta bertanya-tanya apakah setelah ini tiap skripsi mahasiswa UIN harus memasukkan bab tentang geopolitik dunia.

Penutup: Dari Kampus ke Dunia, Lewat Policy Brief

Empat kampus Islam negeri kini bersiap menuliskan rekomendasi yang—semoga—akan didengar dunia.

Semoga juga policy brief tidak hanya jadi arsip PDF 34 halaman yang disimpan rapi di folder “Diplomasi” di server kementerian.

Yang jelas, perdamaian dunia kini bergantung pada kolaborasi kampus, narasumber internasional, dan ketersediaan snack box sesi kedua. Sementara itu, mahasiswa berharap satu hal: semoga seminar ini masuk nilai tambahan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.