Waduh Bocah Difabel Rebut Mikrofon 7Dunia,  Azan pun Menggema di Tengah Diskusi Film Horor

0

INVENTIF — Malam itu, panggung kecil di J Town, Jatinegara, bukan hanya menjadi ruang bagi musik. Ia menjelma menjadi panggung kemanusiaan.

Di tengah denting gitar dan tabuhan drum grup musik 7Dunia, seorang bocah difabel melangkah tanpa ragu, naik ke atas panggung, merebut mikrofon dari tangan sang vokalis, lalu menghadiahkan sesuatu yang tak pernah ada dalam susunan acara: lantunan azan yang menggema dan menggetarkan ruangan.

Tak ada yang marah. Tak ada yang menghentikan. Yang hadir justru tepuk tangan, senyum, dan mata-mata yang menyimpan haru.

Andi, vokalis 7Dunia, memilih merangkul sang bocah, bukan merebut kembali mikrofon. Ia mengajaknya bernyanyi bersama, menjadikan panggung itu milik semua orang.

“Saya kaget, tapi justru senang. Momen ini menghidupkan suasana dan menjadi pengalaman paling berkesan selama saya manggung sejak 2010,” ujar Andi.

Azan yang Mengingatkan tentang Kemuliaan Manusia
Ketika bocah itu melantunkan azan, suasana diskusi film horor mendadak berubah hening. Seolah-olah panggilan itu mengingatkan bahwa di balik segala perbedaan fisik, setiap manusia memiliki kemuliaan yang sama di hadapan Allah.

Al-Qur’an menegaskan:
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra: 70)

Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Momen itu terasa menjadi pelajaran sederhana: seorang anak difabel mampu menghadirkan keteduhan melalui suara azan di tengah riuh sebuah acara.

Negara Menjamin Hak Penyandang Disabilitas
Peristiwa tersebut juga mengingatkan pentingnya penghormatan terhadap hak penyandang disabilitas sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. UU ini menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat tanpa diskriminasi.

Sementara Pasal 2 menegaskan prinsip penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, partisipasi penuh, inklusivitas, dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dalam setiap ruang kehidupan.
Diskusi Horor yang Menyisakan Kisah Kemanusiaan

Ketua panitia Diskusi Film Horor Indonesia Edisi IX, Ncank Mail, mengatakan acara kali ini menghadirkan praktisi perfilman Budi Sumarno, sutradara Hasto Broto, dan pengamat film Didang Prajasasmita. Namun, momen bocah difabel yang naik panggung justru menjadi kenangan paling membekas.

Diskusi bertema “Sinkretisme dan Fenomena Film Horor Indonesia” itu akhirnya tak hanya berbicara tentang horor di layar lebar. Ia juga meninggalkan kisah tentang inklusivitas, empati, dan panggung yang terbuka bagi siapa saja.

Karena terkadang, peristiwa paling indah bukanlah yang dirancang panitia, melainkan yang lahir dari hati seorang anak yang ingin ikut bersuara—dan suaranya berubah menjadi azan yang mengingatkan semua orang tentang kemuliaan manusia tanpa membedakan kondisi fisiknya.(NM)

Leave A Reply

Your email address will not be published.