Waspada Oli Palsu Jelang Aktivitas Mudik
INVENTIF – Survei Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) merilis 66.54 juta orang diprediksi melakukan aktivitas mudik lebaran tahun ini menggunakan mobil pribadi dan motor. Seiring dengan tingginya angka tersebut, pembelian oli sebagai salah satu komponen laiknya kendaraan kita untuk dipakai mudik ke kampung halaman diprediksi turut akan mengalami peningkatan drastis.
Tak hanya menjadi perhatian para produsen oli merek ternama, potensi ini juga rawan dimanfaatkan para oknum pemalsu yang mencari keuntungan besar tanpa memikirkan dampak dari formula asal-asalan yang dihasilkan.
Bagi anda yang menjalani aktivitas mudik dengan mobil pribadi atau motor, sebaiknya menggunakan oli asli dari merek-merek ternama yang pastinya akan menjaga kinerja mesin tetap ciamik hingga tiba di kampung halaman. Dibandingkan aslinya dari merek sama, oli palsu cenderung dijual lebih murah. Namun meski terkesan lebih ekonomis, dampak ditimbulkan atas penggunaan oli palsu justru akan lebih membuat kerugian lebih besar atas kerusakan kendaraan anda.
Penggunaan oli palsu diyakini dapat mempengaruhi umur mesin dan kinerja keseluruhan. Pasalnya dibuat dari oli bekas yang diolah ulang menggunakan campuran bahan kimia agar warnanya kembali menyerupai aslinya, oli palsu tidak memiliki sifat pelumas yang efektif dan kemampuan pendinginan memadai.
Oli palsu cenderung memiliki kualitas rendah dan tidak mampu memberikan pelumasan optimal pada komponen mesin. Imbasnya, gesekan berlebihan dan akselerasi keausan pada bagian-bagian penting mesin. Singkatnya, penggunaan oli palsu dapat mengakibatkan kerusakan serius pada mesin, bahkan berpotensi merusak secara permanen.
Lalu bagaimana membedakan oli palsu dan asli?
Dirangkum dari berbagai sumber, masyarakat dapat melihat beberapa perbedaan antara oli asli dengan yang palsu secara kasat mata .
Salah satu penampakan ialah saat oli sudah dituang dari botolnya. Oli palsu memiliki warna yang keruh atau kecoklatan dan memiliki karakteristik lebih encer. Bila oli tersebut palsu di bawah bagian dalam botol terdapat endapan hitam. Hal itu lantaran hasil penyulingan oli palsu umumnya tidak sebagus oli asli pabrikan.
Perbedaan lain yaitu aroma. Berbeda dengan oli asli, aroma yang tercium dari oli palsu umumnya berbau sengit layaknya benda habis terbakar. Sementara dilihat dari kemasan, biasanya botol oli palsu terlihat lebih kusam dan ada penyokan.
Sejumlah produsen oli ternama saat ini telah memperbaharui kemasan untuk mencegah terjadinya pemalsuan. Selain tersegel serta memiliki nomor produksi pada tutup botol kemasan, produsen oli asli memberikan hologram dan bahkan barcode.
Jika nomor produksi pada botol dan bodi sama, maka bisa dipastikan oli itu asli. Bila berbeda dipastikan oli tersebut adalah palsu.