Asia Tenggara Siap Jadi Pusat Peradaban Islam Baru Tanpa Debat Mikrofon di Masjid
INVENTIF — Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengumandangkan cita-cita besar di forum Mesyuarat Menteri-Menteri Agama MABIMS ke-21 di Melaka, Malaysia: menjadikan Asia Tenggara sebagai Baghdad baru, pusat peradaban Islam dunia.
Cita-cita megah itu disampaikan dengan tenang, tanpa ledakan takbir, tapi penuh nada optimisme — seperti seseorang yang yakin umat Islam sudah berhenti berdebat soal pengeras suara dan mulai riset kecerdasan buatan.
“Dulu Baghdad dengan Baitul Hikmah-nya melahirkan hegemoni intelektual yang disegani dunia. Kini, Asia Tenggara harus mempersiapkan diri menjadi Baitul Hikmah baru,” ujar Menag, yang tampak yakin walau sebagian jamaah mungkin masih sibuk mencari arah kiblat di aplikasi kompas digital.
Menurut Menag, Timur Tengah sudah “pensiun dengan terhormat” dari jabatan sebagai pusat keislaman dunia. Kini, giliran Asia Tenggara — kawasan yang relatif stabil, ekonominya tumbuh, dan masyarakatnya sudah mulai berdamai dengan perbedaan… setidaknya di kolom komentar media sosial.
“Kita memiliki stabilitas politik dan ekonomi. Sementara, banyak negara Timur Tengah masih menghadapi ketidakstabilan. Jadi, mungkin justru di kawasan kita peluang itu muncul,” katanya. Padahal bisajadi di Indonesia, isu khilafah bisa lebih viral dari konser Coldplay.
Masjid Ramah Jamaah, Ramah Lingkungan — Semoga Segera Ramah Parkiran
Dalam forum itu, Menag juga memamerkan “praktik baik” yang dilakukan Kementerian Agama, salah satunya menjadikan masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat pemberdayaan sosial dan ekonomi.
Masjid Istiqlal disebut sebagai contoh: bukan cuma megah dan ramah jamaah, tapi juga ramah lingkungan — bahkan daur ulang air wudu-nya lebih efisien dari sebagian proyek drainase kota.
Masjid terbesar di Asia Tenggara itu kini menyandang sertifikat green building dari International Finance Corporation (IFC) — prestasi yang membanggakan sekaligus membingungkan, mengingat sebagian masjid di pinggiran masih menyalakan kipas angin bekas.
“Kemenag juga membantu 4.450 UMKM melalui program Masjid Berdaya Berdampak (MADADA),” ujar Menag.“Selain itu, 1.350 takmir masjid kami latih, bukan hanya dalam urusan ibadah, tapi juga ekonomi umat.”
Langkah mulia ini menunjukkan semangat baru: dari khutbah Jumat yang dulunya penuh retorika, kini masjid diharapkan bisa juga membahas strategi pemasaran dan laporan keuangan syariah.
Visi Serantau: Dari Melayu Islam Beraja Hingga Moderasi Berkomentar
Forum MABIMS mempertemukan empat negara: Brunei, Malaysia, Singapura, dan Indonesia — masing-masing membawa visi keagamaan sendiri-sendiri, tapi dengan semangat yang sama: damai, santun, dan (semoga) tanpa saling menyindir.
Brunei tetap setia dengan falsafah Melayu Islam Beraja; Malaysia tampil dengan Malaysia MADANI; Singapura menonjolkan harmoni lintas iman; dan Indonesia memperkenalkan “Trilogi Kerukunan Jilid II” — konsep yang terdengar seperti sekuel film yang menjanjikan, meski sutradaranya masih sama.
“Agama harus menjadi sumber harmoni sosial dan kemaslahatan bersama,” tegas Menag, sambil menutup sambutan dengan doa agar umat Islam Asia Tenggara bersatu… setidaknya dalam menentukan awal Ramadan.
Baitul Hikmah 2.0: Dari Baghdad ke Bekasi
Jika Baghdad dulu melahirkan ilmuwan seperti Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina, mungkin Asia Tenggara akan melahirkan influencer Islam yang mengajarkan ilmu falak via TikTok atau ahli tafsir yang viral karena gaya podcast-nya. Era baru peradaban Islam memang menuntut cara baru berdakwah — dengan ring light dan engagement rate.
Karena pada akhirnya, sebagaimana dikatakan Menag, “Dengan kekuatan pemikiran, kita bisa membalikkan arah peradaban.” Dan kalau arah itu kebetulan menuju trending topic, siapa yang bisa melarang?
Asia Tenggara memang berpotensi jadi pusat peradaban Islam baru — mungkin syaratnya sederhana, kurangi debat di media sosial, perbanyak riset di laboratorium.
Dunia menunggu, mungkin bukan khutbah baru, tapi penemuan baru. (NMC)