Ekoteologi Dapat Sorotan, Menag Dapat Penghargaan

0

 

INVENTIF  — Di tengah lampu panggung yang berkilau dan kamera yang tak pernah lelah mengintip, Menteri Agama Nasaruddin Umar melangkah ke mimbar penghargaan, seolah sedang meniti jembatan menuju semesta yang lebih tenteram.

Malam Anugerah Penggerak Nusantara 2025 menjadi panggung di mana harmoni, ekoteologi, dan rating televisi bertemu dalam satu tarikan napas.

Penghargaan untuk kategori Harmoni dan Ekoteologi itu diterima Menag dengan senyum yang terukur—senyum yang biasa hadir saat negara ingin menunjukkan bahwa rukun itu bukan sekadar kata, tetapi agenda. Di belakangnya, para staf khusus dan kepala biro berdiri seperti pilar-pilar candi, menopang momen yang harus abadi di dalam arsip kementerian dan, tentu saja, arsip media.

Menag mengucapkan terima kasih kepada MNC Corp dan iNewsTV, menyebut bahwa penghargaan ini bukti perhatian terhadap program-program Kementerian Agama. Dalam dunia yang serba cepat, perhatian—apalagi dari media besar—memang menjadi komoditas yang tak kalah langka dari udara bersih.

Dalam pidatonya, Menag kembali menyinggung “Trilogi Kerukunan Jilid II,” sebuah konsep yang tampak seperti novel lanjutannya sendiri. Jika jilid pertama berbicara tentang kerukunan antarumat, lintas umat, dan hubungan umat dengan pemerintah, maka jilid kedua ini memperluas horizon hingga menyentuh manusia, alam, dan Tuhan. Sebuah trilogi yang, jika difilmkan, mungkin bisa ikut bersaing di festival-festival internasional.

Menurut Menag, harmoni bukan hanya perkara sosial, tetapi juga ekologis. Aksi iklim, katanya, harus lahir dari kesadaran keagamaan. Di tengah krisis perubahan iklim yang kian terasa, seruan ini terdengar seperti ajakan menanam pohon di halaman rumah—meski tetangganya sedang sibuk menebang hutan untuk parkiran.

Ia mengingatkan kembali ajaran untuk menanam pohon meski kiamat tiba esok hari. Sebuah metafora yang terasa puitis, terutama bila diucapkan di kota yang pepohonannya sering harus bernegosiasi dengan proyek pembangunan.

Kementerian Agama juga telah meluncurkan buku Ekoteologi: Mengamalkan Iman, Melestarikan Lingkungan. Dengan buku itu, diharapkan iman dan lingkungan tidak lagi dianggap dua tokoh yang hanya bertemu sesekali, tetapi pasangan yang seharusnya terus berdialog.

Menag menutup sambutannya dengan mendarmabaktikan penghargaan itu kepada seluruh keluarga besar Kemenag. Harapannya sederhana sekaligus berat: agar kerukunan umat dan harmoni semesta tidak hanya menjadi slogan di spanduk, tetapi napas yang mengalir dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, malam penghargaan itu selesai. Lampu dimatikan, kamera disimpan, dan harmoni kembali menunggu untuk diwujudkan—bukan di panggung televisi, tetapi di dunia nyata yang pepohonnya tak meminta disorot. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.