Gus Ipul soal Kericuhan Muktamar: “Itu Pernik-Pernik Demokrasi NU”

0

INVENTIF — Di rumah besar yang dibangun dengan tiang musyawarah, suara-suara yang meninggi tiba-tiba menjadi hiasan, seolah gaduh pun diberi nama lain: pernik-pernik Muktamar.

Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menanggapi ketegangan yang sempat terjadi di depan pintu ruang Sidang Pleno Muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Minggu (30/8/2026). Baginya, orasi, dorong-mendorong emosi, hingga ketegangan antarpeserta adalah bagian dari dinamika sebuah forum besar.

“Ah, itu biasa lah, dinamika. Kita lihat ini sebagai bagian dari pernik-perniknya Muktamar,” ujar Gus Ipul kepada wartawan.

Ungkapan itu terdengar seperti ajakan untuk melihat kericuhan dari kejauhan: jangan terlalu dekat, nanti yang tampak bukan lagi ornamen, melainkan retak pada dinding persaudaraan.

Gus Ipul meminta publik tidak memotret peristiwa secara sepotong-sepotong. Menurutnya, seluruh area persidangan berada dalam pengawasan ketat, termasuk melalui kamera CCTV yang merekam setiap gerak dan riuh yang terjadi.

“Harus kita pahami secara utuh, tidak boleh sepotong-sepotong. Apalagi di area ini juga banyak CCTV. Nanti akan kami beri penjelasan lebih lanjut,” katanya.

Menanggapi tuntutan peserta aksi yang mempersoalkan materi persidangan hingga usulan perubahan Peraturan Perkumpulan (Perkum) mengenai iddah politik bakal calon Ketua Umum PBNU, Gus Ipul menegaskan panitia bukan penentu arah keputusan. Tugas panitia hanya memastikan panggung tersedia, sementara naskah akhirnya ditulis oleh para muktamirin.

Ia menegaskan Muktamar merupakan forum tertinggi dalam organisasi sehingga seluruh keputusan berada di tangan peserta sidang. Jika aturan hendak diubah, perubahan itu harus disepakati oleh forum Muktamar.

Setelah gelombang meninggi, suasana di arena persidangan mulai kembali teduh. Sejumlah pihak yang sebelumnya berada dalam ketegangan kini duduk bersama untuk bermusyawarah mencari jalan keluar.

“Sekarang suasananya sudah reda, sedang musyawarah mencari jalan yang terbaik. Itulah NU,” pungkas Gus Ipul.

Pantauan di lokasi menunjukkan suasana di sekitar arena sidang lebih landai dibanding sebelumnya. Di dalam ruang persidangan, proses tabulasi perolehan suara usulan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dari para muktamirin terus berlangsung, sementara di luar ruang sidang, riuh yang sempat pecah perlahan kembali dititipkan kepada tradisi lama NU: musyawarah, bukan amarah.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.