Serikat Tani Islam Indonesia dan Zikir Panjang atas Anugerah Bumi

0

INVENTIF—Di bawah naungan langit bulan Juli, di sebuah forum yang tak sekadar bicara teknis pertanian tetapi juga menenun makna spiritualitas dalam sebutir biji yang tumbuh, Serikat Tani Islam Indonesia (PB STII) mengumumkan sebuah ikhtiar agung: menghidupkan kembali kejayaan kelapa sebagai anugerah sekaligus amanah.

Adalah Fathurrahman Mahfudz, Ketua Umum PB STII, yang membuka tabir semangat itu dalam acara Ngaji Pertanian, Sabtu (19/7).

Bukan sekadar forum diskusi, tapi semacam majelis zikir yang berbalut strategi agribisnis, mengajak segenap jiwa tani untuk melihat kelapa bukan hanya sebagai komoditas, tapi sebagai lambang berkah dan pengingat akan kebesaran Ilahi.

“Kelapa bukan hanya pohon, tapi puisi alam yang lengkap. Dari daun hingga akar, semuanya berguna, semuanya bernilai,” ujar Fathur.

Ia menyebut lebih dari 1.600 produk dapat lahir dari satu pohon kelapa—dari daging buah, air, daun, batang, hingga akarnya. Dalam tiap helai seratnya, terdapat potensi yang selama ini mungkin terabaikan oleh gelombang komoditas lain.

Maka STII, di seluruh penjuru negeri, berniat memulai kembali replanting, merawat, dan menggairahkan kembali ruh kelapa dalam pertanian rakyat.

Tak hanya dalam negeri, Fathur pun mengingatkan bahwa perwakilan STII di luar negeri akan digerakkan untuk menyuarakan potensi besar kelapa Indonesia di mata dunia. “Ini bukan sekadar ekspor produk, tapi dakwah kebermanfaatan,” katanya.

Dan di tengah pidatonya yang hangat, ia mengutip Surah An-Nur ayat 37—bahwa dalam kesibukan berdagang dan bertani, manusia tak boleh lalai dari mengingat Allah. Kelapa, dalam narasi Fathur, adalah dzikir hidup yang menggantung di dahan: senyap tapi penuh makna.

“Pengelolaan kelapa haruslah diiringi dengan zikrullah. Pertanian dalam pandangan STII adalah ibadah yang menyejahterakan,” tegasnya.

Harapan Fathur sederhana namun menggugah: agar Indonesia, dengan luas 3,3 juta hektar lahan kelapa terluas di dunia bisa menjadi pelopor dalam industri kelapa global dan menghadirkan manfaat bagi umat, bukan hanya pasar.

Di tempat yang sama, Vipie Gardjito, seorang tokoh pertanian nasional, menjelaskan dengan rinci alasan mengapa kelapa adalah pilihan strategis. Ia menyebut lima alasan utama: luas lahan yang besar, nilai tambah produk yang mencapai 8.800 persen, pasar dunia yang terbuka (8 miliar manusia membutuhkan produk kelapa), basis komunitas yang kuat, serta teknologi pengolahan yang kini semakin mudah diakses oleh masyarakat.

“Kelapa adalah emas hijau yang tersembunyi. Ia tak bergantung pada pabrik raksasa, karena rakyat sendirilah yang bisa mengolahnya,” ungkap Vipie.

Ia menguraikan nilai tambah dari seluruh bagian kelapa: kayunya menjadi bahan bangunan dan furnitur, daunnya untuk piring lidi dan ketupat, buahnya diolah menjadi minyak, margarin, santan, hingga virgin coconut oil. Sebuah kisah panjang manfaat yang seakan tiada akhir.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PB-STII, M. Rosyidi, menegaskan bahwa kerja STII tidak berhenti pada tataran wacana. Program-program peningkatan kapasitas pemasaran tengah digarap secara serius, dengan membangun sinergi antara pemerintah, swasta, dan komunitas tani.

Hari itu, dalam sebuah ruang kecil bernama Ngaji Pertanian, kelapa tak lagi berdiri sendiri sebagai pohon tropis di pinggir ladang. Ia bangkit sebagai simbol peradaban yang tangguh dan religius, sebagai sumber daya yang tak hanya memenuhi kebutuhan perut tapi juga menyuburkan ruh bangsa.

Serikat Tani Islam Indonesia tahu benar: kelapa adalah amanah, dan menanamnya kembali adalah bentuk syukur, bukan hanya strategi. Di akar-akarnya tertanam sabar, di batangnya berdiri istiqamah, dan di buahnya tersimpan barakah.

Dan mungkin, suatu hari nanti, dunia akan kembali belajar dari Indonesia dari pohon kelapa yang tumbuh dengan zikir, dan dari petani yang menanamnya dengan doa. (NCM)

Leave A Reply

Your email address will not be published.