Pagar Muktamar Jebol, Satir Demokrasi Menggema di Tanah Nahdliyin

0

INVENTIF — Di tengah muktamar yang digadang menjadi panggung permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama, pagar pembatas justru menjadi simbol pertama yang runtuh sebelum kata musyawarah sempat menemukan kehormatannya.

Suasana di pintu utama registrasi Muktamar NU ke-35, Minggu (30/8/2026), mendadak berubah tegang ketika sekelompok massa yang mengatasnamakan Generasi Muda Nahdliyin Indonesia menggelar aksi demonstrasi. Ketegangan memuncak hingga terjadi aksi baku pukul dan massa menembus pagar pengamanan, lalu bergerak menuju arena muktamar.

Cukip lama massa bertahan di pintu registrasi yang menjadi akses menuju ruang sidang Muktamar. Aparat keamanan bersama panitia berupaya mengendalikan situasi agar massa tidak memasuki area utama persidangan.

Dalam aksinya, Forum Nahdliyin Indonesia memprotes terganjalnya pencalonan KH Muhammad Yusuf Chudlori sebagai Ketua Umum PBNU. Mereka menilai aturan organisasi telah berubah dari kompas yang semestinya menuntun perjalanan jam’iyah menjadi pagar yang dituding hanya dibuka untuk sebagian orang dan ditutup bagi yang lain.

Para demonstran menegaskan bahwa aturan organisasi tidak boleh dijadikan alat untuk menghalangi pencalonan seseorang secara sepihak maupun diskriminatif. Menurut mereka, tata tertib seharusnya menjaga marwah organisasi, bukan menjadi senjata politik untuk menyingkirkan calon tertentu dalam kontestasi Muktamar.

Massa mendesak panitia dan jajaran PBNU menerapkan aturan secara adil, terbuka, dan konsisten. Mereka juga meminta agar tidak ada penafsiran yang berubah mengikuti arah angin kepentingan, ataupun pemberlakuan aturan secara surut.

Selain itu, Forum Nahdliyin Indonesia menuntut penjelasan resmi dan ruang klarifikasi yang setara atas setiap keputusan mengenai kelayakan pencalonan KH Muhammad Yusuf Chudori. Menurut mereka, setiap peserta berhak memperoleh kepastian melalui mekanisme organisasi yang transparan.

Forum Nahdliyin Indonesia juga mengingatkan bahwa kedaulatan tertinggi dalam Nahdlatul Ulama berada di tangan peserta Muktamar. Karena itu, seluruh proses pengambilan keputusan harus tetap berpijak pada prinsip keadilan, keterbukaan, dan mekanisme organisasi yang berlaku.

Aksi masih berlangsung hingga sore hari. Peristiwa ini menjadi ironi di tengah hajatan besar organisasi yang selama ini dikenal mengajarkan jalan damai, adab, dan musyawarah—ketika pagar dapat ditembus, tetapi kepercayaan justru menjadi hal yang paling sulit dijaga. (NM)

Leave A Reply

Your email address will not be published.