Kericuhan di Studio TV One: Sunan Kalijaga Merangsek ke Ranah Hukum
INVENTIF – Layar kaca yang seharusnya menyuguhkan adu gagasan, mendadak berubah menjadi panggung ricuh. Studio TV One, Kamis malam itu, tak hanya dipenuhi sorot lampu kamera, melainkan juga percikan emosi yang tak terbendung. Advokat Sunan Kalijaga, salah satu narasumber debat, mengaku menjadi korban penyerangan yang diduga dilakukan oleh tim kuasa hukum pihak lawan.
Sunan hadir bersama sejumlah figur publik—Emma Waroka, Barbie Kumalasari, dan Ayu Aulia—untuk membahas kasus seorang dokter gigi (drg) yang sedang jadi sorotan. Namun sebelum kata-kata beradu, ia sudah merasakan getar yang tak sedap. Seorang pengacara berinisial J, yang mewakili drg tersebut, menyalaminya dengan cara yang menurut Sunan sarat intimidasi.
“Dia menepuk dada dan bahu saya, tapi bukan dengan niat baik. Itu gestur menghardik,” tutur Sunan, suaranya menahan bara, saat konferensi pers di kawasan Prapanca, Jakarta Selatan, Jumat (15/8).
Usai acara, Sunan mencoba menuntaskan ketegangan dengan bertanya langsung: “Ada masalah apa dengan saya?” Namun, yang ia terima justru dorongan. Dalam hitungan detik, suasana berubah riuh. Tangan terkepal, sorak penonton, dan langkah tergesa-gesa membuat studio debat itu menjelma arena keributan.
Sunan mengaku wajah kirinya terkena pukulan dari arah samping. “Bahasa gaulnya, saya dicolok. Wajar kalau saya marah, siapa pun yang dipukul tanpa alasan akan bereaksi,” ucapnya dengan nada getir.
Pelaku yang diduga memukul Sunan segera diamankan pihak keamanan. Di depan Sunan, orang tersebut meminta maaf dan menandatangani surat pernyataan. Tetapi bagi Sunan, luka itu tak bisa ditebus hanya dengan secarik kertas. “Sesama advokat tidak pantas melakukan itu. Tidak bisa memukul lalu minta maaf begitu saja,” katanya tegas.
Kericuhan tak berhenti di situ. Seorang penonton bernama SBB dituding ikut memprovokasi dengan mendorong dan mengancam Sunan. Bahkan, Sunan menyebut adanya peran pihak lain—seorang dokter bernama A—yang terlihat menerima telepon dari pelaku sesaat setelah kejadian, lalu meninggalkan lokasi. Semua momen itu, kata Sunan, terekam jelas kamera CCTV.
Tak ingin peristiwa itu hilang ditelan kabar simpang siur, Sunan bersama tim kuasa hukumnya membawa masalah ini ke ranah hukum. Video, rekaman CCTV, dan surat pernyataan pelaku sudah disiapkan sebagai bukti di kepolisian.
“Jangan ada informasi yang dipelintir atau disetting. Biarkan hukum bekerja sesuai jalurnya,” ucap Sunan, sembari meminta maaf kepada publik yang menyaksikan kericuhan di layar kaca.
Ia menutup dengan kalimat yang lebih mirip doa daripada sekadar pernyataan: “Saya datang ke studio bukan untuk bertinju, tapi untuk berdebat secara hukum. Saya sadar penuh, tidak di bawah pengaruh apa pun. Ini forum debat, bukan ring tinju.” (ISS)